Monday, June 19, 2017

Ngentot Tante Jeni Mengkel

Hingga kini, kisah ini masih sering terlintas dalam benak dan pikiranku. Entah suatu keberuntungankah atau kepedihan bagi si pelaku. Yang jelas dia sudah mendapatkan pengalaman berharga dari apa yang dialaminya. Sebut saja namaya si Jo. Berasal dari kampung yang sebenarnya tidak jauh-jauh sekali dari kota Y. Di kota Y inilah dia numpang hidup pada seorang keluarga kaya. Suami istri berkecukupan dengan seorang lagi pembantu wanita Inah, dengan usia kurang lebih diatas Jo 2-3 tahun. Jo sendiri berumur 15 tahun jalan. Suatu hari nyonya majikannya yang masih muda, Ibu Rhieny atau biasa mereka memanggil Bu Rhien, mendekati mereka berdua yang tengah sibuk di dapur yang terletak di halaman belakang, di depan kamar si Jo.
“Inah.., besok lusa Bapak hendak ke Kalimantan lagi. Tolong siapkan pakaian secukupnya jangan lupa sampai ke kaos kakinya segala..” perintahnya.

“Kira-kira berapa hari Bu..?” tanya Inah hormat.
“Cukup lama.. mungkin hampir satu bulan.”
“Baiklah Bu..” tukas Inah mahfum.
Bu Rhien segera berlalu melewati Jo yang tengah membersihkan tanaman di pekarangan belakang tersebut. Dia mengangguk ketika Jo membungkuk hormat padanya.
Ibu Rhien majikannya itu masih muda, paling tua mungkin sekitar 30 tahunan, begitu Inah pernah cerita kepadanya. Mereka menikah belum lama dan termasuk lambat karena keduanya sibuk di study dan pekerjaan. Namun setelah menikah, Bu Rhien nampaknya lebih banyak di rumah. Walaupun sifatnya hanya sementara, sekedar untuk jeda istirahat saja.

Dengan perawakan langsing, dada tidak begitu besar, hidung mancung, bibir tipis dan berkaca mata serta kaki yang lenjang, Bu Rhien terkesan angkuh dengan wibawa intelektualitas yang tinggi. Namun kelihatan kalau dia seorang yang baik hati dan dapat mengerti kesulitan hidup orang lain meski dalam proporsi yang sewajarnya. Dengan kedua pembantunya pun tidak begitu sering berbicara. Hanya sesekali bila perlu. Namun Jo tahu pasti Inah lebih dekat dengan majikan perempuannya, karena mereka sering bercakap-cakap di dapur atau di ruang tengah bila waktunya senggang.
Beberapa hari kepergian Bapak ke Kalimantan, Jo tanpa sengaja menguping pembicaraan kedua wanita tersebut.
“Itulah Nah.. kadang-kadang belajar perlu juga..” suara Bu Rhien terdengar agak geli.
“Di kampung memang terus terang saya pernah Bu..” Inah nampak agak bebas menjawab.
“O ya..?”
“Iya.. kami.. sst.. pss..” dan seterusnya Jo tidak dapat lagi menangkap isi pembicaraan tersebut. Hanya kemudian terdengar tawa berderai mereka berdua.
Jo mulai lupa percakapan yang menimbulkan tanda tanya tersebut karena kesibukannya setiap hari. Membersihkan halaman, merawat tanaman, memperbaiki kondisi rumah, pagar dan sebagainya yang dianggap perlu ditangani. Hari demi hari berlalu begitu saja. Hingga suatu sore, Jo agak terkejut ketika dia tengah beristirahat sebentar di kamarnya.
Tiba-tiba pintu terbuka, “Kriieet.. Blegh.

” pintu itu segera menutup lagi.
Dihadapannya kini Bu Rhien, majikannya berdiri menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat ia mengerti.
Cerita Dewasa
“Jo..” suaranya agak serak.
“Jangan kaget.. nggak ada apa-apa. Ibu hanya ada perlu sebentar..”
“Maaf Bu..
” Jo cepat-cepat mengenakan kaosnya.
Barusan dia hanya bercelana pendek. Bu Rhien diam dan memberi kesempatan Jo mengenakan kaosnya hingga selesai. Nampaknya Bu Rhien sudah dapat menguasai diri lagi. Dengan mimik biasa dia segera menyampaikan maksud kedatangannya.
“Hmm..,” dia melirik ke pintu.
“Ibu minta kamu nggak usah cerita ke siapa-siapa. Ibu hanya perlu meminjam sesuatu darimu..”
Kemudian dia segera melemparkan sebuah majalah.
“Lihat dan cepatlah ikuti perintah Ibu..

” suara Bu Rhien agak menekan.
Agak gelagapan Jo membuka majalah tersebut dan terperangah mendapati berbagai gambar yang menyebabkan nafasnya langsung memburu. Meski orang kampung, dia mengerti apa arti semua ini. Apalagi jujur dia memang tengah menginjak usia yang sering kali membuatnya terbangun di tengah malam karena bayangan dan hawa yang menyesakkan dada bila baru nonton TV atau membaca artikel yang sedikit nyerempet ke arah “itu”. Sejurus diamatinya Bu Rhien yang tengah bergerak menuju pintu. Beliau mengenakan kaos hijau ketat, sementara bawahannya berupa rok yang agak longgar warna hitam agak berkilat entah apa bahannya. Segera tangan putih mulus itu menggerendel pintu.
Kemudian.., “Berbaringlah Jo.. dan lepaskan celanamu..


Agak ragu Jo mulai membuka.
“Dalemannya juga..” agak jengah Bu Rhien mengucapkan itu.
Dengan sangat malu Jo melepaskan CD-nya. Sejenak kemudian terpampanglah alat pribadinya ke atas.
Lain dari pikiran Jo, ternyata Bu Rhien tidak segera ikut membuka pakaiannya. Dengan wajah menunduk tanpa mau melihat ke wajahnya, dia segera bergerak naik ke atas tubuhnya. Jo merasakan desiran hebat ketika betis mereka bersentuhan.
Naik lagi.. kini Jo bisa merasakan halusnya paha majikannya itu bersentuhan dengan paha atasnya. Naik lagi.. dan.. Jo merasakan seluruh tulang belulangnya kena setrum ribuan watt ketika ujung alat pribadinya menyentuh bagian lunak empuk dan basah di pangkal paha Bu Rhien.
Cerita Dewasa
Tanpa memperlihatkan sedikitpun bagian tubuhnya, Bu Rhien nampaknya hendak melakukan persetubuhan dengannya. Jo menghela nafas dan menelan ludah ketika tangan lembut itu memegang alatnya dan, “Bleesshh..
Dengan badan bergetar antara lemas dan kaku, Jo sedikit mengerang menahan geli dan kenikmatan ketika barangnya dilumat oleh daging hangat nan empuk itu.
Dengan masih menunduk Bu Rhien mulai menggoyangkan pantatnya. Tangannya menepis tangan Jo yang secara naluriah hendak merengkuhnya.
“Hhh.. ehh.. sshh.. ” kelihatan Bu Rhien menahan nafasnya.
“Aakh.. Bu.. saya.. saya nggak tahan..” Jo mulai mengeluh.
“Tahann sebentar.. sebentar saja..

” Bu Rhien nampak agak marah mengucapkan itu, keringatnya mulai bermunculan di kening dan hidungnya.
Sekuat tenaga Jo menahan aliran yang hendak meledak di ujung peralatannya. Di atasnya Bu Rhien terus berpacu.. bergerak semakin liar hingga dipan tempat mereka berada ikut berderit-derit. Makin lama semakin cepat dan akhirnya nampak Bu Rhien mengejang, kepalanya ditengadahkan ke atas memperlihatkan lehernya yang putih berkeringat.
“Aaahhkhh..

Sejurus kemudian dia berhenti bergoyang. Lemas terkulai namun tetap pada posisi duduk di atas tubuh Jo yang masih bergetar menahan rasa. Nafasnya masih memburu.
Beberapa saat kemudian, “Pleph..
” tiba-tiba Bu Rhien mencabut pantatnya dari tubuh Jo.
Dia segera berdiri, merapihkan rambutnya dan roknya yang tersingkap sebentar.
Kemudian, “Jangan cerita kepada siapapun..

” tandasnya, “Dan bila kamu belum selesai, kamu bisa puaskan ke Inah.. Ibu sudah bicara dengannya dan dia bersedia..” tukasnya cepat dan segera berjalan ke pintu lalu keluar.
Jo terhenyak di atas kasurnya. Sejenak dia berusaha menahan degup jantungnya. Diambilnya nafasdalam-dalam. Sambil sekuat tenaga meredam denyutan di ujung penisnya yang terasa mau menyembur cepat itu. Setelah bisa tenang, dia segera bangkit, mengenakan pakaiannya kemudian berbaring. nafasnya masih menyisakan birahi yang tinggi namun kesadarannya cepat menjalar di kepalanya. Dia sadar, tak mungkin dia menuntut apapun pada majikan yang memberinya hidup itu. Namun sungguh luar biasa pengalamannya tersebut. Tak sedikitpun terpikir, Bu rhien yang begitu berwibawa itu melakukan perbuatan seperti ini.
Dada Jo agak berdesir teringat ucapan Bu Rhien tentang Inah. Terbayang raut wajah Inah yang dalam benaknya lugu, tetapi kenapa mau disuruh melayaninya..? Jo menggelengkan kepala.. Tidak..

biarlah perbuatan bejat ini antara aku dan Bu Rhien. Tak ingin dia melibatkan orang lain lagi. Perlahan tapi pasti Jo mampu mengendapkan segala pikiran dan gejolak perasaannya. Beberapa menit kemudian dia terlelap, hanyut dalam kenyamanan yang tanggung dan mengganjal dalam tidurnya.
Perlakuan Bu Rhien berlanjut tiap kali suaminya tidak ada di rumah. Selalu dan selalu dia meninggalkan Jo dalam keadaan menahan gejolak yang menggelegak tanpa penyelesaian yang layak. Beberapa kali Jo hendak meneruskan hasratnya ke Inah, tetapi selalu diurungkan karena dia ragu-ragu, apakah semuanya benar-benar sudah diatur oleh majikannya atau hanyalah alasan Bu Rhien untuk tidak memberikan balasan pelayanan kepadanya.
Hingga akhirnya pada suatu malam yang dingin, di luar gerimis dan terdengar suara-suara katak bersahutan di sungai kecil belakang rumah dengan rythme-nya yang khas dan dihafal betul oleh Jo. Dia agak terganggu ketika mendengar daun pintu kamarnya terbuka.
“Kriieet..

” ternyata Bu Rhien.
Nampak segera melangkah masuk kamar. Malam ini beliau mengenakan daster merah jambu bergambar bunga atau daun-daun apa Jo tidak jelas mengamatinya. Karena segera dirasakannya nafasnya memburu, kerongkongannya tercekat dan ludahnya terasa asin. Wajahnya terasa tebal tak merasakan apa-apa.
Agak terburu-buru Bu Rhien segera menutup pintu. Tanpa bicara sedikitpun dia menganggukkan kepalanya. Jo segera paham. Dia segera menarik tali saklar di kamarnya dan sejenak ruangannya menjadi remang-remang oleh lampu 5 watt warna kehijauan. Sementara menunggu Jo melepas celananya, Bu rhien nampak menyapukan pandangannya ke seantero kamar.
“Hmm.. anak ini cukup rajin membersihkan kamarnya..” pikirnya.
Tapi segera terhenti ketika dilihatnya “alat pemuasnya” itu sudah siap.
Dan.., kejadian itu terulang kembali untuk kesekian kalinya. Setelah selesai Bu Rhien segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. Dia hendak beranjak ketika tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh Ibu lupa..” terhenti sejenak ucapannya.
Jo berpikir keras.. kurang apa lagi..? Jujur dia mulai tidak tahan mengatasi nafsunya tiap kali ditinggal begitu saja, ingin sekali dia meraih pinggang sexy itu tiap kali hendak keluar dari pintu.
Lanjutnya, “Hmm.. Inah pulang kampung pagi tadi..” dengan wajah agak masam Bu Rhien segera mengurungkan langkahnya.
“Rasanya tidak adil kalau hanya Ibu yang dapat. Sementara kamu tertinggal begitu saja karena tidak ada Inah..”
Jo hampir keceplosan bahwa selama ini dia tidak pernah melanjutkan dengan Inah. Tapi mulutnya segera dikuncinya kuat-kuat. Dia merasa Bu Rhien akan memberinya sesuatu. Ternyata benar.. Perempuan itu segera menyuruhnya berdiri.
“Terpaksa Ibu melayani kamu malam ini. Tapi ingat.., jangan sentuh apapun. Kamu hanya boleh melakukannya sesuai dengan yang Ibu lakukan kepadamu..”
Kemudian Bu Rhien segera duduk di tepi ranjang. Dirainya bantal untuk ganjal kepalanya. Sejuruskemudian dia membuka pahanya. Matanya segera menatap Jo dan memberinya isyarat.
“..” Jo tergagap. Tak mengira akan diberi kesempatan seperti itu.
Dalam cahaya kamar yang minim itu dadanya berdesir hebat melihat sepasang paha mulus telentang. Di sebelah atas sana nampak dua bukit membuncah di balik BH warna krem yang muncul sedikit di leher daster. Dengan pelan dia mendekat. Kemudian dengan agak ragu selangkangannya diarahkan ke tengah diantara dua belah paha mulus itu. Nampak Bu Rhien memalingkan wajah ke samping jauh.. sejauh-jauhnya.

“Degh.. degh..” Jo agak kesulitan memasukkan alatnya.
Karena selama ini dia memang pasif. Sehingga tidak ada pengalaman memasukkan sama sekali. Tapi dia merasakan nikmat yang luar biasa ketika kepala penisnya menyentuh daging lunak dan bergesekan dengan rambut kemaluan Bu Rhien yang tebal itu. Hhh..
Nikmat sekali. Bu Rhien menggigit bibir. Ingin rasanya menendang bocah kurang ajar ini. Tapi dia segera menyadari ini semua dia yang memulai. Badannya menggelinjang menahan geli ketika dengan agak paksa namun tetap pelan Jo berhasil memasukkan penisnya (yang memang keras dan lumayan itu) ke peralatan rahasianya.
Beberapa saat kemudian Jo secara naluriah mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.
“Clep.. clep.. clep..

” bunyi penisnya beradu dengan vagina Bu Rhien yang basah belum dicuci setelah persetubuhan pertama tadi.
“Plak.. plak.. plakk..,” kadang Jo terlalu kuat menekan sehingga pahanya beradu dengan paha putih mulus itu.
“Ohh.. enak sekali..” pikir Jo.
Dia merasakan kenikmatan yang lebih lagi dengan posisi dia yang aktif ini.
“Ehh.. shh.. okh..,” Jo benar-benar tak kuasa lagi menutupi rasa nikmatnya.
Hampir beberapa menit lamanya keadaan berlangsung seperti itu. Sementara Jo selintas melirik betapa wajah Bu rhien mulai memerah. Matanya terpejam dan dia melengos ke kiri, kadang ke kanan.

“Hkkhh..” Bu Rhien berusaha menahan nafas.
Mulanya dia berfikir pelayanannya hanya akan sebentar karena dia tahu anak ini pasti sudah diujung “konak”-nya.
Tapi ternyata, “Huoohh..,” Bu Rhien merasakan otot-otot kewanitaannya tegang lagi menerima gesekan-gesekan kasar dari Jo.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terbangkitkan nafsunya.
Jo terus bergoyang, berputar, menyeruduk, menekan dan mendorong sekuat tenaga. Dia benar-benar sudah lupa siapa wanita yang dihadapannya ini. yang terfikir adalah keinginan untuk cepat mengeluarkan sesuatu yang terasa deras mengalir dipembuluh darahnya dan ingin segeradikeluarkannya ..
“Ehh..” Bu Rhien tak mampu lagi membendung nafsunya.
Daster yang tadinya dipegangi agar tubuhnya tidak banyak tersingkap itu terlepas dari tangannya, sehingga kini tersingkap jauh sampai ke atas pinggang. Melihat pemandangan ini Jo semakin terangsang. Dia menunduk mengamati alatnya yang serba hitam, kontras dengan tubuh putih mulus di depannya yang mulai menggeliat-geliat, sehingga menyebabkan batang kemaluannya semakin teremas-remas.

“Ohh.. aduh.. Bu..,” Jo mengerang pelan penuh kenikmatan.
Yang jelas Bu Rhien tak akan mendengarnya karena beliau sendiri tengah berjuang melawan rangsangan yang semakin dekat ke puncaknya.
“Okh.. hekkhh..” Bu Rhien menegang, sekuat tenaga dia menahan diri, tapi sodokan itubenar-benar kuat dan tahan.
Diam-diam dia kagum dengan stamina anak ini.
Akhirnya karena sudah tidak mampu lagi menahan, Bu Rhien segera mengapitkan kedua pahanya, tanganya meraih sprei, meremasnya, dan.., “Aaakkhh..
” dia mengerang nikmat. Orgasmenya yang kedua dari si Jo malam ini. Sementara si Jo pun sudah tak tahan lagi. Saat paha mulus itu menjepit pinggangnya dan kemudian pantat wanita itu diangkat, penisnya benar-benar seperti dipelintir hingga, “Cruuth..
crut.. crut..

” memancar suatu cairan kental dari sana. Jo merasakan nikmat yang luar biasa. Seperti kencing namun terasa enak campur gatal-gatal gimana.”Ohk.. ehh.. hh,” Jo terkulai. Tubuhnya bergetar dan dia segera mundur dan mencabut penisnya kemudian terhenyak duduk di kursi sebelah meja di kamarnya. Wajahnya menengadah sementara secara alamiah tangannya terus meremas-remas penisnya, menghabiskan sisa cairan yang ada disana. Ooohh.. enak sekali..
Di ranjang Bu Rhien telentang lemas. Benar-benar nikmat persetubuhan yang kedua ini. Beberapa saat dia terkulai seakan tak sadar dengan keadaannya. Bongkahan pantatnya yang mengkal dan mulus itu ter-expose dengan bebas. Rasanya batang kenyal nan keras itu masih menyumpal celah vaginanya. Memberinya sengatan dan sodokan-sodokan yang nikmat. Jo menatap tubuh indah itu dengan penuh rasa tak percaya. Barusan dia menyetubuhinya, sampai dia juga mendapatkan kepuasan. Benarkah..?
Sementara itu setelah sadar, Bu Rhien segera bangkit. Dia membenahi pakaiannya. Terlintas sesuatu yang agak aneh dengan anak ini. Tadi dia merasa betapa panas pancaran sperma yang disemburkannya. Seperti air mani laki-laki yang baru pernah bersetubuh.

“Berapa jam biasanya kamu melakukan ini dengan Inah, Jo..?” tanya Bu Rhien menyelidik.
Jo terdiam. Apakah beliau tidak akan marah kalau dia berterus terang..?
“Kenapa diam..?”
Jo menghela nafas, “Maaf Bu.. belum pernah.”
“Hah..
? Jadi selama ini kamu..?”
“Iya Bu. Saya hanya diam saja setelah Ibu pergi.”
“Oo..,” Bu Rhien melongo.
Sungguh tidak diduga sama sekali kalau itu yang selama ini terjadi. Alangkah tersiksanya selama ini kalau begitu. Aku ternyata egois juga. Tapi..?, masa aku harus melayaninya. Apapun dia kan hanya pembantu. Dia hanya butuh batang muda-nya saja untuk memenuhi hasrat sex-nya yang menggebu-gebu terus itu. Selama ini bahkan suami dan pacar-pacarnya dulu tak pernah mengetahuinya. Ini rahasia yang tersimpan rapat.
“Hmm.. baiklah. Ibu minta kamu jangan ceritakan ke siapapun. Sebenarnya Ibu sudah bicara sama Inah mengenai masalah ini. Tapi rupanya kalian tidak nyambung. Ya sudah.. yang penting sekali lagi, pegang rahasia ini erat-erat.. mengerti..?” kembali suaranya berwibawa dan bikin segan.

“Mengerti Bu..,” Jo menjawab penuh rasa rikuh.
Akhirnya Bu Rhien keluar kamar dan Jo segera melemparkan badannya ke kasur. Penat, lelah, namunnikmat dan terasa legaa.. sekali.

Berawal Dari Membaca Majalah Dan Berakhir Dengan ML

Berawal Dari Membaca Majalah Dan Berakhir Dengan ML. kali ini menceritakan pengalaman Sex seorang Pria yang benama Sigit. Sigit ini bekerja di kantor Pengacara. Pada waktu perjalanan dinas ke Jakarta Dia mendapat kenalan di dalam Kereta Api. Perkenalan itupun berjalan lancar dengan wanita yang bernama Anggi. Berawal dari perkenalan akhirnya menjadi suatu hubungan Sex. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini. Hey guest perkenalkan nama saya Sigit, saya akan berbagi sedikit cerita tentang kisah mesumku, kejadian ini terjadi pada saat saya ada tugas di Jakarta Tgl 1 maret 2016. Ketika itu perjalananku ditemani oleh kereta api, karena sangat nyaman sekali, pada saat itu setelah saya duduk di kereta api saya merasa mengantuk. Saking nyaman-nya saya hampir tidak tahu kalau yg duduk di samping saya ternyata seorang wanita cantik guest. Sekejap rasa ngantuk saya langsung hilang begitu saja, dan sayapun mencoba menyapanya,

“ Siang Mba? ” ucap basa-basi saya.
“ Emm.. Siang juga Mas, ” jawab wanita itu.
Oh ya guest, gambaran dari wanita cantik ini seperti berikut, dia mempunyai wajah Asmiranda, postur tubuh seperti Tiyas Mirasih. Dia berkulit putih, berhidung mancung, alis mata tebal, dan mempunyai bibir sensual sekali. Kalau saya taksir untuk ukuran bra-nya sekitar 34B. Nampak kencang, kenyal dan indah sekali payudaranya dibalik blazer berwarna merah itu. setelah percakapan kecil tadi sayapun menghabiskan waktu saya dikereta dengan membaca majalah bola Fotball. Bisa dikatakan kalau saya ini termasuk maniak bola guest, Eh ternyata majalah bola itu pembawa hoki, karena wanita itu ternyata maniak bola juga, hhe. Kesempatan nih,

“ Lagi baca majalah Fotball ya Mas, pasti mas maniak bola yah ? ” ucap wanita itu.
“ Iya nih Mba, emang kenapa Mba, memangnya Mba seneng bola juga yah, ” tanya balik saya.
Benar-benar majalah magic ini, hha. Akhirnya sepanjang perjalanan itu kami-pun berbincang banyak tentang Fotball.
“ Oh iya Mas, kalau boleh tahu Mas kerja apa di Jakarta? ” tanya wanita itu.
“ Oh Saya kerja di kantor pengacara Mba dijakarta, Oh ya mba dari tadi kita ngobrol kog saya belum tahu nama Mba ya, hhe, Perkenalkan nama saya Sigit Mba, kalau nama mba siapa ? ” tanya saya.
“ Oh iya ya Mas, hhe, Nama saya Anggi Mas, salam kenal ya mas ya ” jawab waita itu,
Perbincangan kami-pun semakin seru, dan pada akhir nya saya tahu namanya juga. Sampai-sampai akhirnya dia menawarkan untuk hangout weekend ini di Jakarta. Lampu hijau nih buat saya, tanpa pikir panjang saya-pun menerima tawaranya. Setelah beberapa jam kami mengobrol tak terasa kami sudah sampai Jakarta, kebetulan kami turun di stasiun yg sama,

“ Oh ya, Mas yg jemput siapa memangnya, kalau tidak ada yg jemput ikut saya aja gimana ? Nanti saya anterin sampai tujuan deh Mas…hhe , ” ucap Anggi.
“ Belum tahu nih Mba, palingan juga naik taksi, lagian distasiun-kan banyak Taksi,hhe. ” ucap saya.
“ Sudah bareng saya aja nggk usah malu-malu, nanti biar diantar supir saya sampai tempat mas, ” ucap Anggi lagi.
Yasudahlah akhirnya saya dari stasiun-pun bareng dengan Anggi. Singkat cerita sampailah saya di ujung gang tempat saya, akhirnya saya minta turun di ujung Gang itu,
“ Makasih ya see you Anggi !!! besok saya akan telefon kamu yah, ” ucap saya pada Anggi.
“ Sama-sama Mas, see you to Mas, aku tunggu yah telfonnya.hhe, ” balasnya.

Sampailah saya di tujuan saya kemudian saya bergegas istirahat karena capek. Tak terasa sang mentari pagi sudah menerangi pagiku itu, kebetulan saya juga harus bangun pagi-pagi karena saya mau pergi ke kantor atasanku. Nah setelah selesai meeting di kantor, saya langsung telefon wanita cantik kemarin.
“ Hallo, bisa bicara dengan Anggi, ” ucap saya.
“ Dari siapa ini, ” tanya sebuah suara wanita.
“ Ini dari Sigit, teman Anggi dari Malang, ” ucap saya supaya si Anggi tidak lupa.

“ Hi Mas, apa kabar, dan gimana acara kami malam ini, ” jawab Anggi.
“ Saya sih udah siap jemput kamu sekarang, ” ucap saya.
“ Ya langsung aja Mas kalau gitu. ”
Saya langsung meluncur ke rumah Anggi. Gila benar, ternyata rumah si Anggi ini besar dan mobilnya selusin.
“ Wah kamu malam ini beda sekali ya, kelihatan lebih sederhana tapi tetep wah.. ” ucap saya sambil jelalatan melihat badannya yg ternyata wah wah wah.
“ Ah Mas Sigit bisa saja, saya kan emang begini ini, ” ucap Anggi merendah.
“ Gini-gini juga bikin pusing saya nih, ” ucap saya menggoda.
Eh ternyata Anggi itu mencubit lenganku.

“ Mas Sigit juga paling bisa deh, kemarin katanya karyawan biasa, kok mobilnya Mercy yg baru. ”
“ Oh itu, itu mobil dinas kok? ” ucap saya.
“ Ah Mas ini bisa aja, masak mobil dinas Mercy baru sih.. ” katanya sambil mencubitku.
Malam itu kami ke restoran mewah. Selesai makan kami ke pub.
“ Mas, kalo Anggi minum banyak, nggak pa-pa kan? ” tanya Anggi.
“ Untuk kesehatan sih jangan, tapi kalau sekali-sekali terserah kamu, masak saya melarang, nanti kamu bilang emangnya elu siapa. ”
“ Nggak maksudnya Mas Sigit nggak pa-pa ngeliat Anggi minum banyak. ”

“ Oh itu sih Okey, saya ini nggak banyak ngatur dan ‘possesive’ ke wanita, yg penting jgn reseh ya! ” ucap saya ke Anggi sambil kupegang dan belai kepalanya.
“ Kalo gitu kita minum aja Tequila, ” teriak Anggi.
“ Aduh ampun deh, kalo minum itu, nanti kalau saya juga teler siapa yg anter, ” tanya saya.
“ Ya kita nggak usah pulang, kita nginep aja di hotel sebelah. ”
“ Hah, kamu serius nih.. ”
“ Iya bener, kenapa sih, kok kamu belum ngerti juga kalo saya dari kemarin di kereta udah memperhatikan kamu, ” ucap Anggi sambil menggalayut ke badanku.
Uh mati deh saya, disosor sama wanita cantik yg umurnya cukup jauh di bawahku.

“ Ya kalo kamu bilang gitu saya ikut aja, tapi kamu nggak nyesel dan emang sadar kan ambil keputusan ini, ” ucap saya sekali lagi untuk meyakinkan diriku sendiri.
“ Yes darling, I’ve decided and never regret, ” ucap Anggi sambil memelukku dengan sebelah tangannya.
Dan malam itu saya minum mungkin sekitar 12 gelas kecil Tequila, dan Anggi menenggak tidak kurang dari 6 gelas. Kami berdua sudah mulai tinggi karena kebanyakan minum.
“ Nggi, pulang aja ya, mumpung saya masih bisa nyetir. ”
“ Iya deh pulang aja, biar bisa lamaan berduaan sama Mas Sigit, ” jawab Anggi manja.

Di mobil Anggi sudah tidak bisa menahan diri lagi.
“ Mas, Anggi nggak tahan nih. ”
“ Kamu mau muntah ya, ” tanya saya.
“ Bukan.. bukan itu, tapi itu tuh, nggak tahan itu, ” tangannya dengan jahil menunjuk-nujuk ke pangkal paha saya.
“ Anggi buka ya, ” katanya dan tanpa menunggu aba-aba, tangannya segera menggerayangi reitsleting celana saya dan mengeluarkan Kejantananku yg masih setengah tidur.
Dengan perlahan tapi pasti, dilahapnya seluruh batanganku ke dalam mulutnya yg seksi. Dimainkannya ujung batangku dengan lidahnya. Saya merasakan batangku mengeras dan semakin mengeras.

“ Nggi, aduh gimana nih sekarang, kamu tanggung jawab lho, ” ucap saya menggodanya.
“ Ya udah deh cari aja hotel, ” ucap Anggi sambil terus mengocok batangku, dan dengan tangan satunya dia meremas-remas payudaranya sendiri.
Hotel pun pilihannya jatuh di Hotel “ A “ Menteng Prapatan. Kami berdua naik ke kamar sudah agak sempoyongan tapi ditegak-tegakkan supaya kelihatannya sehat. Setibanya di kamar Anggi menyempatkan menelepon ke adiknya.

“ Nggin, ini saya nginep di Hyatt “ A “ kamar 900, bilangin bokap ya! ”
Saya begitu datang dari kamar mandi mengenakan handuk saja, langsung ditubruk dan handuknya ditarik Anggi yg ganas itu. Sambil mencium dada, perut dan sekujur tubuhku, Anggi dengan tergesa-gesa melepas bajunya dan melemparkannya ke penjuru kamar. Begitu terlepas BRA yg menutupi payudaranya yg padat itu, terlihat payudaranya yg putih padat dengan putingnya yg terlihat kecil mencuat karena terangsang.
Disambarnya batanganku yg sudah tegang karena melihat keganasan dan tubuh Anggi yg indah itu. Sambil menaik-turunkan mulutnya mengikutipanjangnya batangku, tangan kanan Anggi mengusap dan mempermainkan klitoris dan sekitar bulu Vaginanya sendiri, serta sesekali terdengar erangan dari mulutnya yg terus menghisap batangku.

Capek dengan kegiatannya, Anggiitu menjatuhkan badannya ke tempat tidur sambil mengangkat kedua kakinya ke atas. Tangan kirinya membelai rambut Vag1nanya sendiri, dan tangan kanannya mempermainkan lipatan-lipatan kulit klitoris di Vag1nanya. Saya melihat Anggi seperti itu, langsung ikut membelai bulu Vaginanya yg halus. Kujilat putingnya yg menonjol kecil tapi keras, kujelajahi perutnya yg kencang, kumainkan ujung lidahku di sekitar pusarnya. Dan terdengar erangan Anggi,
“ Egghh, uhh.. ” Langsung kuhujamkan ujung lidahku ke lubang Vag1nanya yg sudah basah, dengan kedua jempolku, kudorong ke atas lipatan klitorisnya, kupermainkan ujung lidahku di sekitar klitoris itu,
“ Uuhh, egghh, ahh.. ” teriak Anggi.

Karena tidak tahan lagi, langsung saja kumasukan batang kejantananku yg dari tadi sudah sangat keras. Dan ternyata basahnya Vagina Anggi tidak mengakibatkan rasa licin sama sekali, karena lubangnya masih terasa sempit dan sulit ditembusnya. Begitu terasa seluruh batang kemaluanku masuk di dalam jepitan lubang Vagina Anggi, perlahan-lahan kupompa keluar dan masuk lubangnikmat itu. Belum terlalu lama saya memompa Vagina Anggi, tiba-tiba,
“ Aaahh, uugghh.. ” teriak Anggi, rupanya dia sudah orgasme.
Saya mempercepat gerakan dan teriakan Anggi semakin menjadi-jadi, lalu kuhentikan tiba-tiba sambil menekan dan memasukkan batang kejatananku sedalam-dalamnya kelubang Vaginanya.

“ Oh.. Oh.. Oh.. that was so nice darling, let’s make another, ” katanya.
Kubalikkan badannya telungkup ke tempat tidur, dan dari belakang kupompa lagi keluar masuk lubang Vaginanya yg ketat itu, kurebahkan badanku menempel ke punggung Anggi dan kugerakkan pinggulku secepatnya.
“ Uh.. uh.. uh.. uh.. aduh Mas enak sekali.. aahh.. ” teriak Anggi lagi karena orgasme yg kedua.

Tapi kali ini saya tidak stop, karena saya juga sudah merasakan denyutan yg memuncak di sepanjang batangku. Dan dengan kecepatan penuh kupompa keluar masuk lubang Vag1na ketat itu. Diiringi erangan yg semakin menjadi-jadi dari Anggi, akhirnya saya juga mencapai klimaksnya.
Paginya karena hari Minggu, saya tidak terlalu resah untuk bangun pagi. Apalagi saya sekarang sedang menginap di “ A “ bersama Anggi. Waktu saya bangun kulihat jam di meja samping tempat tidur, eh baru jam 8:00 pagi. Kepala masih nyut-nyutan, dan kamar masih gelap sekali, tapi saya tetap bangun dan ke kamar mandi. Setelah sikat gigi dan “ nyetor saham ”, saya langsung ke tempat tidur lagi dan masuk ke balik selimut.
“ Emm, Mas kok pagi-pagi sudah bangun sih. Uuhh.. tangan kamu tuh dingin, jgn nempel-nempel dong! ” ucap Anggi protes.

Tapi tanpa menghiraukan protes Anggi, saya tetap menempelkan badanku ke badan Anggi yg juga telanjang bulat. Dari belakang kupeluk badannya yg padat berisi, dengan tangan kananku, kuraba buah payudaranya yg menonjol. Saya memainkan jari-jariku di sekitar putingnya yg terasa menonjol kecil. Kurasakan badan Anggi menggeliat sedikit tapi kemudian diam kembali. Kulanjutkan lagi rabaanku ke daerah perut menuju rambut-rambut halus di sekitar Vaginanya.
Perlahan-lahan kuusap-usap rambut-rambut itu, dan di balik rambutnya kuraba dan mainkan klitoris Anggi.
“ Emm, ehh, Mas, uhh, Mas, ya itu di situ enak, terus ya, ” ucap Anggi tiba-tiba.
Tanpa terasa, batangku mulai mengeras lagi. Tidak pikir lama-lama langsung kutempelkan pinggulku ke pantat Anggi. Terasa Kejantananku tepat di belahan pantat Anggi. Tanganku tetap kumainkan di daerah Vag1nanya, dan saya bisa merasakan Vaginanya mulai basah. Segera kuarahkan ujung batangku ke lubang Vagina Anggi.

“ Aghh.. ” erang Anggi saat ujung batangku agak dengan paksa menusuk ke liang Vag1nanya.
Kugenjot Kejantananku sampai akhirnya.
“ Akhh.. ” erang Anggi rupanya dia sudah sampai.
Anggi melepas Kejantananku dari lubang Vaginanya, dan memintsaya untuk tidur terlentang. Lalu dengan perlahan lagi, dia naik ke atas badanku dan mulai memasukkan Kejantananku yg tadinya sudah hampir mencapai puncaknya. Anggi menghadap ke arahku, sehingga terlihat wajahnyayg cantik serta buah payudaranya yg menonjol besar. Pinggul Anggi meliuk-liuk menimbulkan rasa enak dan ngilu di sepanjang dan ujung Kejantananku yg terjepit erat di antara Vagina Anggi. Kuraih buah dada Anggi dan kuremas-remas.
“ Ohh, yes, yes, yah terus Mas, oouhh enaknya, ya.. ” teriak Anggi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya secara membabi buta.

Rambutnya yg agak panjang terlihat menyabet ke kiri dan ke kanan. dan tak lama kemudian kami pun mencapai puncak secara bersamaan. Begitulah kisahku bersama Anggi, dan sejak saat itu saya sering melakukan hu yg melelahkan sekaligus menyenangkan hubungan sex bersama Anggi.

Sunday, May 28, 2017

Cerita Sex Terkulai Lemas Usai Bercinta Dengan Mama Temanku

Cerita Sex Kali ini datang dari kisah nyata yang saya alami dan Tidak akan saya lupakan di karenakan baru pertama kalinya saja melakukan hubungan seks dan itu bersama dengan Ibu dari Sahabat ku sendiri, Memang sedikit berbeda dengan Cerita Cerita Dewasa lainnya, Dan kali ini akan saya bagikan pengalaman saya kepada semua pencinta setia.
Awal nya Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani Takut dia jadi tahu bahwa sebenarnya perbuatannya dengan ibuku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang Lagian terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa bisa menikmati memek ibu
Juga ngentot dengan ibunya Maman yang bodi dan keseksiannya nyaris sama dengan ibuku jadi aku harus membina keakraban dengan Maman Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Maman
Belakangan, sejak mengetahui antara ibu dan Maman ada hubungan khusus, aku sering memberi kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa Saat Maman main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka
Padahal, aku malah ke rumah Maman dengan berpura-pura pada ibunya hendak menemui dia Hingga belakangan hubunganku dengan ibunya Maman makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Maman di rumahku
Seperti sore itu, di saat Maman main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan teman kampungku untuk menghadiri acara ulang tahun Padahal aku langsung ke rumah Maman “Tadi katanya ke rumah kamu Bud? Padahal udah dari tadi lho,” kata ibunya Maman saat aku masuk
Saat membukakan pintu, ibunya Maman rupanya habis mandi Tubuhnya kelihatan masih basah, terlihat dari baju kurung terusan yang dipakenya, tercetak teteknya yang menggunung Tetek ibu Maman lebih manteb dari punya ibu, karena keliatan lebih runcing Tapi jilbab yang dipakenya sudah tampak rapi, keliatan mau pergi “Hemm…” dengusku agak kesal juga
Seperti halnya ibuku, ibunya Maman juga berbodi tinggi besar Pantatnya besar membusung dengan pinggul yang mengundang Hanya, kulit Tante Wina (nama ibunya Maman) agak sedikit gelap Tetapi kesemua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada dadanya yang agak tercetak dan bagian lain tubuhnya yang mengundang selera, ia seperti tak menghiraukannya
Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang Betapa tidak, karena baju kurungnya yang lebih mirip kayak daster Cuma ga tipis-tipis banget membuat bongkahan pantat besarnya kini ikut-ikutan tercetak di bajunya dan keliatan ibu Maman belum sempat memakai CD “Fiuh… sayang mo pergi , sial” umpatku dalam hati
Kuyakin itu disengaja Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit Ah ingin rasanya meremas pantat besar yang menggunung itu Kalau Maman, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang diinginkan Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah


“Eh Bud, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya
“Eee ee bi bisa tante Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap
“Kalau begitu tante ganti baju dulu Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan
Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas
Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Wina tidak menutup kembali pintu kamarnya Dengan bertelanjang bulat, karena baju kurungnya tadi telah dilepas, dengan santai ia memilih-milih baju yang hendak dikenakan Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku
Bukan hanya pantatnya yang besar membusung Buah dada Tante Wina juga besar tapi keliatan kencang dan meruncing, mungkin 36C lah Putingnya yang berwarna coklat kehitaman, terlihat mencuat Ah ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Maman pada tetek ibuku
Sebenarnya aku ingin banget melihat bentuk memek Tante Wina secara jelas Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya Tetapi benar seperti kata Maman, tubuh ibunya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita
Setelah menemukan baju yang dicari dan berniat dipakainya, Tante Wina berbalik dan memergokiku tengah menatapi tubuh telanjangnya Tetapi sepertinya ia tidak marah Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya
Ibunya Maman meski telah bergelar hajah dan setiap keluar rumah selalu membungkus rapat tubuhnya dengan busana muslimah, namun masih menjalankan usaha yang tercela Di samping bisnisnya sebagai pedagang perhiasan berlian, ia juga meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau rentenir, bahkan temenku Maman sempat beberapa kali memergoki ibunya jalan bareng sama laki-laki di luar
Hanya kalau di rumah, pakaian yang dipakainya agak lebih santai dan lebih tipis, menurutku lebih seperti daster ibu-ibu tetangga cuman lebih panjang dan berlengan dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dilakukan di hadapanku
Rumah orang yang ditagih Tante Wina ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Wina terlihat sangat senang Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling Karena takut terjatuh, Tante Wina membonceng dengan memeluk erat tubuhku
Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Wina terasa menekan punggungku Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku Untung Tante Wina segera mengingatkannya
“Bud karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Wina saat perjalanan hampir sampai rumah
“Pertanyaan apa Tan?”
“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang kan?” katanya berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya
Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu Aku jadi bingung buat menajawabnya Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang Tetapi aku nggak berani takut salah Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Wina meraba bagian depan celana dan meraba kontolku yang telah tegang mengacung “Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras Pasti karena terangsang membayangkan tetek tante yang menempel di punggungmu kan?”
“I i iya tan,” kataku akhirnya menyerah
“Nah gitu dong ngaku Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah Kalau Maman belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus kontolku
Penawaran ibunya Maman adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya Mudah-mudahan saja Maman belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Wina untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh ibuku seperti yang pernah kulihat
Sampai di rumah, setelah tahu Maman belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu “Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya
Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Wina seperti yang diperintahkannya Tidak seperti Maman yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan ibuku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi ibuku maupun ibunya Maman Hingga aku hanya duduk mencenung di ruang tamu menunggu panggilan Tante Wina
Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Wina sendiri yang keluar kamar menemuiku Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya “Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku
Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Wina kini benar-benar terpampang di hadapanku
Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat memeknya yang menggunduk Licin tanpa rambut karena habis dicukur Dan seperti memek ibuku, bibir luar kemaluannya yang berwarna coklat kehitaman tampak berkerut-kerut
Seperti kebanyakan wanita seusia dengannya, perut Tante Wina sedikit membuncit dan ada lipatan-lipatan di sana Namun buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol nampak lebih besar ketimbang milik ibuku Ibu temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit kemaluannya
Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba memek Tante Wina Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku “Ayo Bud pegang saja Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” rayu Tante Wina melihat keraguanku
Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap memek wanita itu Permukaannya agak kasar, mungkin karena bulu-bulu rambutnya yang habis dicukur Sedangkan di bagian tengah, di bagian belahannya, daging kenyal yang berkerut-kerut itu terasa lebih hangat Aku mengelus dan mengusapnya perlahan Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Wina yang sudah lama kudambakan
Sambil tetap duduk, aku terus merabai memek ibu temanku itu Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut Lebih hangat dan terasa agak basah Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya Namun karena Tante Wina berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa Untungnya, Tante Wina langsung tanggap Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk
Dengan posisinya itu, memek ibunya Maman jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat Kini bibir kemaluannya tampak terbuka lebar Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat “Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Bud Atau jilati sekalian Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Wina lagi
Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya Jadilah wajahku langsung menyentuh memeknya karena tarikan Tante Wina pada kepalaku memang cukup kuat Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku Bau yang timbul dari lubang memek ibunya Maman Bau yang aneh tapi membuatku makin terangsang
Aku jadi ingat segala yang dilakukan Maman pada memek ibuku Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir kemaluannya yang berkerut langsung kulahap dan kucerucupi Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci lubang nikmat Tante Wina Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya Hasilnya, Tante Wina mulai merintih perlahan Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di lubang kemaluannya
“Ahhhh… sssshhhhh … aakkkhh enak banget Bud Terus sayang, aakkkhh ya ya enaaakhh sayang ahhhhh,” suara Tante Wina mulai merintih dan mendesis
Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang Itil Tente Wina tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap Sementara bongkahan pantat besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku “Auuww … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh… sssshhhhh oookkkhhhh… enak banget Kamu pinter banget Bud,… aaakkkhhh … ssshh …aaarrrggghhh,” rintihanya makin menjadi
Cukup lama aku mengobok-obok memek Tante Wina dengan mulut dan lidahku Memeknya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan vaginanya yang mulai keluar Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya “Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi
Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan Termasuk celana dalamku juga dilolosinya ”Wow… kontol kamu gede banget Bud! Keras banget lagi,” seru Tante Wina saat melihat kontolku telah terbebas dari pembungkusnya
Diremas-remas dan dibelainya kontolku, membuatku tambah ngaceng saja dan saat lidahnya mau menyentuh kontolku aku minta Tante Wina mengenakan jilbabnya lagi, ku bilang rayuan yang sama punyanya Maman, “Tante keliatan cantik kalo masih pakai jilbab” rayuku,
sambil senyum-senyum geli ibu Maman memakai jilbabnya kembali dan saat Tante Wina sibuk memakai jilbabnya, aku gak sabar ngeliat tetek tante yang menganggur, seketika aku jilat-jilat sambil ku hisap pelan putting teteknya bergantian sehingga Tante Wina agak menggelinjang, “Oouukkhh…udah gak sabar ya, lidah kamu pinter juga… eemmmhhh……” desah Tante Wina
“Sekarang giliran lidah tante Bud” kata tante yang langsung jongkok dan mencaplok kepala kontolku dengan mulut dan lidahnya “Uuukkhhh…… aaaakhhhhh… ” desahku saat lidah basah tante menyentuh kontolku,hangat banget
Mulut tante keliatan kesulitan menggelomoh kontolku yang lumayan besar diameternya, tapi meliat mulut tante bekerja keras mengenyot kontolku apalagi dengan masih pakai jilbab membuat aku sangat terangsang karena baru kali ini akau merasakan lidah perempuan menari-nari di kontolku
“ Mulut tante gak muat sayang, panjang dan gedhe banget sih, emm emm… tapi tante suka banget…” Sambil menghisap, tante juga mengocok-ngocok kontolku hingga makin tambah panjang dan keras saja kontolku Dengan gemas, tante mengulum juga biji kontolku sambil tangannya tetap mengocok kontolku dengan kencang “Aaakkhhhh…… eennaakk…banget tante, mulut tante hhaaahh…ngaatthhh banget…oohh”
ceracauku merasakan kenyotan mulut Tante Wina yang luar biasa nikmat, kontolku seperti di sedut-sedut dan pintarnya mulut dan lidah Tante Wina hanya bermain di kepala kontolku yang notabene itu bagian paling peka di kontol laki-laki sambil tangannya mengocok, meremas dan memilin-milin batang kontolku dengan cepat dan teratur Aku makin gak tahan dengan perlakuan Tante Wina tersebut,
“Ennakkhh… sssaaayyyhhaaa… dah gak kuaaat…tttaaann…” teriakku sambil ku remas-remas kepala tante yang berjilbab “Eemmm… mmmm…… sssllluuurrrpp… slluurrppp… iiyyahh… keluarin di mulut tante aajahh Bud, tante pengen banget minumm ppeejuhh kkkaammuu… ” Jawab Tante Wina sambil makin kenceng ngocok dan ngenyotin kontol ku
Saat kurasakan kenikmatan sudah di ubun-ubun dan aku gak mampu nahan lagi, kutembakkan seluruh maniku ke dalam rongga mulutnya sampai ada 8 kali tembakan tapi yang pertama bercecer di wajah tante sampai jilbabnyapun kena tembakan maniku saking kencengnya, “Aaaaarrggghhhhhh……hhhhaaaaakkkhhhh……cccrrootttt…… issseepp… tttaanttheee… aakkkhhhhh… crrooott…crrottt…ccrroott……sserrrrr…… ookkhhhh… sssstttt…” teriakku sambil ngeremas jilbab tante dengan kuatnya
Dan Tante Wina mengulum kontolku dengan kuat saat kutembakkan maniku sambil meremas gemas kontolku, “eemmm… eemmmmmmhhh… sslluurrrppp… Enak banget pejuh kamu Bud… ahhhhhh” desah tante sambil menelan semua maniku, sempat kulihat maniku lumayan banyak di mulutnya
Sesaat aku merasa lemas banget, sambil mengatur nafas aku tiduran di kasur tante Ternyata memang luar biasa, bisa ngecrotin maniku di wajah perempuan berjilbab, sensasinya luar biasa “Kok belum turun-turun juga nih kontol?” kata tante melihat kontolku yang masih lumayan ngaceng walaupun udah ngecrot berulang-ulang
Dan memang kurasakan kontolku masih lumayan keras “Sekarang, tante pengen ngajak kamu ngerasain kemutan tante yang bawah, mau gak Bud” tanya tante manja, membuatku mulai bergairah dan gak sabar pengen bener-bener ngentotin Tante Wina
Dibelai dan di elus-elusnya kontolku sesaat Ia sepertinya mengagumi ukuran kontolku Lalu ia duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga memeknya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar kemaluannya yang berkerut-kerut
Tante Wina yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat Dibimbing tangan wanita itu kontolku diarahkan ke lubang memeknya “Dorong dan masukkan Bud kontolmu Ih gemes deh, punya kamu besar banget,”
Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk kontolku ke lubang memeknya Tapi, “Aaauuww, jangan kencang-kencang Bud Bisa jebol nanti memek tante,” pekik Tante Wina
Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali kontolku namun dicegah olehnya “Jangan sayang, jangan ditarik Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya
Seperti yang dimintanya, batang kontolku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan Hasilnya, bukan cuma Tante Wina yang terlihat menikmati sodokan kontolku di memeknya Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya Kenikmatan yang sulit kulukiskan
Terlebih ketika kontolku mulai kukeluarmasukkan ke dalam lubang nikmat itu Ah, luar biasa nikmat Jauh lebih enak menikmati kehangatan memek Tante Wina daripada mulut Tante tadi, kemutannya sangat terasa, peret banget Bagian dalam dinding memek Tante Wina seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara
“Ttteeerrrhhhussss…… Bud, uuukkhhhhh… uuuuukkkhhhh…… kontolmu enak banget Gede dan marem banget Aakkhhh iiii…yyyyhhhaaa Bud, terus sogok memek Tante ssshhayaaannggg Aaakkkhhhh, aaakkkhhhhhh… aaaakkkkhhhh… Ssshhhhhh……,” Tante Wina mengerang nikmat
Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi memeknya yang tengah diterobosi kontolku Ternyata, di bibir luar kemaluan Tante Wina ada sebentuk daging yang menggelambir
Saat batang penisku kudorong masuk, daging menggelambir itu ikut terdorong masuk Namun saat aku menariknya, bagian tersebut juga ikut keluar Melihat itu sodokan kontolku pada lubang nikmat wanita itu kian bersemangat
“Memek Tante nggak enak ya Bud? Kok dilihatin begitu?” Kata Tante Wina Rupanya ia memperhatikan ulahku
“Eee enak bangat Tante Sungguh Memek tante bisa meremas Saya sangat suka,” ujarku tanpa berterus terang perihal bagian daging yang menggelambir dan menarik perhatianku
“Bener Bud? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin terus tante Tante juga suka banget kontol kamu Aaaahhh… ssssskkkhhhhhh… aaaaakkkkhhhhhhh… eeennnaaaaakkkkkhhhhh bangat sayang Ooouuggghhhhhhh terus Bud, aaayyyooo sayang ssssshhhoooo…… gggghhhooookkkkhhh…… teruuuu ssshhhhh Aaaaakkkkhhhhhh… aaaahhhhhh …mmmmpphhhh……sssssshhhhhh… aaaakkkhhhhh,” erang nikmat Tante Wina sampai menggelinjang tak karuan
Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Wina yang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya Maka langsung saja kuremas-remas teteknya yang berukuran besar dan kencang itu Sesekali kedua putingnya yang mencuat, berwarna coklat kehitaman kupilin-pilin dengan jari-jariku Alhasil Tante Wina kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi
Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan kontolku di memeknya, mulai menggoyangkan pinggulnya Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan kontolku di memeknya
Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku Jepitan dinding vaginanya pada kemaluanku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang kontolku serasa digerus dan dihisap “Ooookkkhhhhh… ooohhhhhh… sshhh sshhh ahahh enak bangat tante Mmmhheee… memek tante enak banget Sssshh… sssaaa saya ngggaaakkhh tahan tante Ooohhhhh… ooouuukkhhhhhhh,” ucapku menahan kemutan memek tante yang sangat nikmat
“Ttthhhaaaaa……hhhhaaaannnn Bud, tante jjjuuugggaaahh… hampir sampai Aakkkkhhhhh……nnniiiikkkkhhh… mmaaatt banget… kkkhhhooo…nnntthhooollll… kamu eeeennnaaakkkhhh banget Bud Aaaarrrgggggghhhhh sshhhhhh… aaahhhhh sssssshh… Mmmmppphhhhh…… ookkhhh……akkhh aakhhh…aakkhhh… ,” Erang Tante Wina sambil tangannya meremas kuat pinggulku
Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku Namun saat goyangan pantat Tante Wina kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan Seperti air bah, air maniku kini memancar lebih deras dan lebih banyak dari ujung kontolku mengguyur bagian dalam memek ibu temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan
“Ssssaaa… yyyyhhaaaa nggaaaakkhhh… tahan tanteeee, aaakkkkkhhhhhh… ooookkhhhh……… sssshhhhhh aaakkkhhh… aaaaakkkkhhhhhh aakkhhhhhhh……cccrrootttttt… crroott…cccrroottt… ccccrrootttt… sseerrrrr……hhhoooookkhhh……… ,” lolongku panjang sambil meremas kuat-kuat tetek Tante Wina
Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, memek Tante Wina berkedut-kedut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras kontolku Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya
“Ttttaaaannn… tttteeeee… jjjjuuu…gggaaa nyampaaaaiiii…… Bud Aaaaaaarrrrggghhhhhhh aaakkhhhh……ssshhhh… ohhh …oookkhhhhhh … aaaakkkhhhhh……, Enak… eenaakkkhhh… bangat Bud,… hhhaaahhh… Hhhaaaakkhhhh aaaakkhhhh… … aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang sambil jilbab yang sudah awut-awutan di kapalanya dia remas kuat-kuat
Tante Wina menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan “Tante sangat puas BudSudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama
Di kamar mandipun, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, melihat tubuh ibu temanku basah membuatku sangat bergairah Aku hajar Tante Wina dari belakang dengan tiba-tiba dan cepat, kontolku masuk lebih dalam, ku genjot ibu temanku ini dengan lebih ganas dan kuat sambil teteknya yang menggantung indah aku remas-remas dari belakang
Kebetulan di kamar mandi ada cermin di dinding untuk berhias jadi aku bisa melihat wajah ibu temanku ini megap-megap, kelojotan menerima sogokan kontolku yang besar “Aaaaauuwwwww…… Aaaaaarrggghhhh…
aaakkkhhh…aakkhh aakkhh…aakkhhh… Aarrrggghhhh… pppee… Llhannn Dddiiiddd… ” Jeritnya, tapi aku tetap saja menyogoknya dengan buas bahkan dengan ritme yang lebih cepat Dan Tante Wina hanya bisa menggelinjang-gelinjang dan tubuh ibu temanku ini berguncang-guncang dengan hebatnya
“Hhaahh…kenapa tante? Sakit tante?” godaku sambil tetap menyogokkan kontolku ke memeknya “Nnggghh…ggggaaakkkhhh… Hhhooookkhhhh… nikmat bangat Bud… kontolmu… manteb bangat… Aakhh…aakkhh…aakkhh…akkhhh… Mmmmpphh… sssshhhhhh…”
“Sssooo…dddooookkhhhh… ttteruuss… buddddd… ooouugghhhh… ”
“Tantteee… Ddaaahhh…nnngggaaaakkhhhhh… Tttaaahhhannn… Aaaaakkkhhhhhhh…… oooouugghhhh…… ssshhhhhh… ”
Jerit orgasme ibu temanku ini sambil meremas-remas teteknya, badanya bergetar hebat, melenguh dan menjepit kontolku dengan sangat kuat serta menyedut-nyedutnya membuat aku juga nggak kuat, akhirnya kutembakkan maniku ke liang memeknya dengan masih aku sogok-sogokkan kontolku dan saat tembakan terakhir-akhir aku masukkan semua kontolku ke dalam memeknya,
“Aaaaakkhhhhh…nnniikkkkhhh…mmmaattthhh… bbaannggaattt… ttaaantteee… Ookkkhhhh…… ccrrooott… crrott…ccrrottt…aaaahhhhhhhh………”
Tubuh kita sama-sama ambruk di lantai kamar mandi dan kontolku masih tetap kubenamkan di liang memek ibu temanku ini sambil terengah-engah merasakan guyuran air shower kamar mandi Luar biasa nikmatnya
Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Wina mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan Berkali-kali air maniku muncrat membasahi lubang memeknya dan membuat lemas sendi-sendiku
Namun, berkali-kali pula Tante Wina mengerang dan merintih oleh sogokan kontol besarku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan.

Cerita Mesum dengan Memek Dari Saudaraku

Berambut sebahu dengan warna merah yang disemir dan kulitnya berwarna putih mudah menarik perhatian lawan jenisnya, kami berjumpa lagi di kota jogya yang sekian lama sudah tak lama bertemu, saat itu dia masih kuliah, di perguruan tinggi Jogya saat dia di jogja dia bertempat tinggal di rumahnya budenya.
Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota.
Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Ratna) serta Ratna dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.
Hari-hari berikutnya, Ratna masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Ratna. Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Ratna menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Ratna.
Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Ratna selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Ratna sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Ratna. Tampaknya Ratna tulus dan ikhlas membantu kami.
Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Ratna mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Ratna tiba-tiba muncul.
“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”


Ratna mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Ratna terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.
“Ada apa, Ratna?”
“Mas… aku pengin seperti Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Ratna tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
“Ratna, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Ratna sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras.
Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku.
Ratna merenggangkan pagutannya dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”


Kuangkat tubuh Ratna dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.
“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Ratna sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Ratna merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal.
Ratna kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Ratna. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.
“Kamu amat bergairah, Ratna..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmmm… iya… Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.
“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama… ukh…” serunya sembari menelan ludahnya.
“Ayo, Mas… teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Ratna sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku. Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Ratna telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja.
Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Ratna lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya.
Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Ratna, namun menambah nikmat aroma gadis muda.
Tangan Ratna mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya.
“Sedot kuat-kuat Mas, sedooottt…” bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Ratna tak kuasa menahan kedua kakinya.
Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas lepas…” katanya sambil telentang di lantai. Ratna meminta aku melepas pakaian. Ratna sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam.
Ratna melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Ratna melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.
“Mas sedot Mas… teruskan, enak sekali Mas… enak…” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Ratna. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku.
Kumainkan jemariku di sana dan Ratna tampak sedikit tersentak. “Ukh… khmem.. hsss… terus… terus,” lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya.
Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Ratna dengan teknik petik melodi.
Ratna menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas… Mas… ampun… terus, ampun… terus ukhhh…” Sebentar kemudian Ratna lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Ratna kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif.
Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Ratna menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Ratna.
“Uh… Mas… apaan ini,” kata Ratna kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Ratna langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.
“Mas… ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.
Ratna geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras.
Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.
“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”
Ratna langsung menarik penisku. “Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.”
Ratna menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Ratna memandangiku penuh harap.
“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Ratna. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang…”
Namun tampaknya Ratna tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Ratna. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya.
“Cepat Mas…” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Ratna justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas.
Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Ratna tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Ratna tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.
“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa… tusuk aku. Keras… keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Ratna menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..”
Dan aku menekannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Ratna, meleleh keluar. Aku melirik, darah… darah segar. Ratna diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam.
Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Ratna dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Ratna sedikit berkurang ketegangannya.
Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Ratna mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Ratna pasrah dan tidak sebuas tadi.
Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Ratna mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih,
“Uuuhh.. Mas… uhhh… enaakkkk.. enaaakkk… Terus… aduh… ya ampun enaknya..” Ratna melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Ratna yang terkulai.
“Ratna, kenapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”
“Kamu juga liar.”
Ratna memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Ratna mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.
Sejak kejadian itu, Ratna selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Ratna waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Ratna mengaku puas.
Setelah lulus, Ratna menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.
“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.
“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.

Cerita Sex Skandal Perselingkuhan Dengan Istri Tetangga

Awal dari cerita sex selingkuh ini di saat aku masih belum punya rumah alias masih mengontrak kalau mau kisahnya silahkan kalain simak. Aku jadi penasaran ingin tahu seberapa cantik tetanggaku itu suatu saat kami pun bertemu dan berkenalan dgn suami dan isteri tetanggaku mereka bernama Gery dan Ratna sedangkan Ratna masih muda sekali bahkan lebih muda dari aku beberapa tahun kamipun menjadi akrab.
Gery memiliki usaha sendiri di bidang accu mobil dan motor di dekat rumah mertuanya yang cukup jauh dari tempat tinggal kami Gery selalu berangkat pagi dan pulang maghrib.Karena sdh terlalu akrab aku dan isteriku sering nonton TV di rumah mereka maklumlah kami masih baru menikah jadi belum punya barang apa apa hanya lemari plastik ranjang dan peralatan dapur bahkan kami masih sama sama kuliah.
Karena saking akrabnya aku sdh tdk sungkan lagi untuk masuk ke rumah mereka pada suatu siang ketika isteriku sedang pergi kuliah dan aku sendirian di rumah aku bertandang ke rumah tetanggaku untuk nonton televisi.
Kebetulan di rumahnya hanya ada Ratna dan anaknya yang baru berumur tiga tahun.Sewaktu nonton televisi kami mengomentari tentang film yang kebetulan tentang percintaan semakin asyik mengobrol isteri tetanggaku menanyakan tentang bagaimana hubungan sex tadinya aku kaget sewaktu dia bicara tentang sex lalu aku beranikan diri untuk menanyakan bagaimana hubungan sex mereka.
Ratna bilang bahwa dia belum pernah merasakan enaknya hubungan sex karena suaminya tdk pernah melakukan pemanasan lalu aku berlagak banyak pengalaman memberikan petunjuk dia senang sekali mendengarnya ketika itu Ratna sedang menyusui anaknya lalu aku goda dia dgn gurauan yang berbau sex dan aku goda juga anaknya dgn memegang Toket Ratna untuk melepaskan pentilnya dari mulut anaknya seolah olah aku melarangnya menyusu lagi karena memang anaknya sdh terlalu besar untuk menyusui.
Dan ternyata Ratna diam saja setelah itu dia menyuruh anaknya main keluar setelah anaknya pergi aku beranikan diri untuk mendekatinya dan memeluknya tanpa berfikir panjang aku langsung mengecup bibirnya dan kami berciuman ternyata Ratna membalas ciumanku dgn erangannya yang merangsang.
Lama kami saling berpagut ciuman hingga Ratna mengerang seperti keenakan kemudian aku mainkan toketnya yang besar dan aku mainkan pentilnya dgn jari jemariku sebelumnya dia sdh bilang bahwa Meqi Ratna Sdh Basah dari sewaktu kami ngobrol tentang sex.
Lalu kemudian setelah puas kami berciuman aku bimbing Ratna untuk tiduran dan aku beralih posisi di atas badannya kamipun berciuman lagi sambila aku tekan tonjolan k0ntolku yang sdh menegang di balik celanaku.Aku gesek gesekkan k0ntolku di meqinya dgn masih memakai pakaian yang masih lengkap. Tentu saja Ratna semakin liar merasakan rangsangan yang aku timbulkan di daerah meqinya rasanya aku sdh tdk dapat menahan k0ntolku lagi yang sdh begitu menegang dan ingin rasanya aku masukkan ke dlm lubang meqinya.
Tiba tiba aku mendengar suara ketuk pintu kemudian aku hentikan ciumanku dan kami saling menatap dgn penuh kesal dan sedikit marah karena mengganggu kami yang sedang nikmatnya memadu kasih aku tdk dapat meneruskan ciuman lagi dan tanpa fikir panjang aku langsung pulang dgn hati kecewa dan k0ntolku masih menegang. Dan aku semakin gelisah karena tdk dapat menyalurkan gairah sexku lagi kemudian aku ke kamar mandi dan mencoba mengingat kembali peristiwa tadi dgn Ratna sambil aku bermasturbasi.
Tp tiba tiba terdengar suara orang mandi dirumah kontrakan sebelahku kemudian aku melongok dan kulihat seorang gadis cantik putih mulus sedang mandi telanjang bulat aku pun berhayal lagi hingga akhirnya aku bisa menyalurkan sexku lewat masturbasi.


Setelah kejadian itu aku tdk memiliki waktu lagi untuk berduaan dgn Ratna karena selain isteriku sering di rumah akupun sibuk dgn kuliahku setelah beberpa bulan kami tinggal di rumah kontrakan tersebut kamipun pindah rumah dgn sedikit berat hati Ratna melepaskan kami pindah rumah.Akan tetapi aku masih menitipkan beberapa barang di rumahnya karena tdk muat dlm mobil seminggu kemudian aku datang siang ke rumah Ratna untuk mengambil barangku.
Dan secara kebetulan Ratna sedang berduaan dgn anaknya pikiran kotorku mulai muncul inilah saatnya aku bisa bermain cinta dengannya setelah mengobrol beberapa saat aku memberikan uang kepada anaknya dan menyuruhnya jajan di luar.Nah kesempatan itu tdk aku sia siakan setelah anaknya pergi aku langsung menciuminya dan diapun membalasnya bahkan dgn erangan yang lebih liar dari sebelumnya.
Sambil berciuman tanganku langsung kuarahkan ke dlm CDnya dan memainkan gundukkan rambut meqinya dgn mengelus elusnya.
Kemudian mulutku beralih ke gundukan bukit kembarnya yang menggemaskan kumainkan lidahku di sekitar puting sambil tanganku tetap bermain di lubang meqinya Ratna tdk dapat menahan seranganku karena rangsangan yang aku berikan membuatnya semakin mengerang dan memelukku erat erat aku buka resluiting celana jeansku kemudian tangan Ratna ku bimbing untuk memainkan k0ntolku yang sdh mulai tegang dgn lembutnya Ratna mengelus dan mengocok k0ntolku karuan saja semakin lama k0ntolku semakin tegang keras dan rangsangan yang timbulkannya membuatku ingin sesegera mungkin memasukkannya ke liang kenikmatan Ratna.
Kami berdua sdh tdk dapat menahan rangsangan lagi selanjutnya aku berjongkok untuk membuka celana pendek dan CDnya kami sempat saling bertatapan seolah olah sdh tdk bisa membendung lagi gairah yang muncul dan ingin secepatnya memasukkan k0ntolku ke lubang meqinya.
Dan dgn hanya membuka setengah celana jeansku sebatas dengkul aku mulai mengambil alih posisi di atasnya untuk memberikan sensasi yang lebih aku gesekkan k0ntolku di kemaluan Ratna sehingga membuat tdk kuat menahan rasa geli lama aku menggesek gesekan k0ntolku di atas lubang meqinya hingga aku lihat Ratna sdh tdk tahan lagi kemudian kau masukkan k0ntolku ke lubang meqi Ratna yang wangi semerbak.
Perlahan aku tusuk k0ntolku dan Ratna membuka lebar lebar kakinya agar Cerita Dewasa memudahkan rudalku masuk ke lubang kewanitaannya.Perlahan tp pasti kejantananku memasuki lubang kenikmatan Ratna dan eranganpun keluar dari mulut Ratnayang semakin liar
“Aaacchhhh Aaacchhhh Mas nikmat sekalli” sambil memegang panggul dan pantatku Ratna membantuku memasukkan dan mengeluarkan k0ntolku dari lubang meqinya.
Pada saat k0ntolku menusuk Ratna menekan pantatku sehingga seluruh k0ntolku masuk semuanya ke dlm lubang kenikmatan tersebut sambil aku putar pantatku.
“Aaacchhhh nikmat Masss terus Mas terus yang cepet ooogghhh nikmat”..katanya.
Meqi Ratna memang kuakui sangatlah lain dan memiliki daya tarik dan daya rangsangan yang tinggi sewaktu aku menarik dan memasukkan k0ntolku ke dlm lubang meqinya sensasi yang aku terima begitu dasyat sekali karena dinding meqinya menyempit ketika k0ntolku masuk dan memijit mijit batang k0ntolku.
Nah ini sensasi yang baru buatku begitu nikmatnya memeki Ratna selain batang k0ntolku dipijit pijit oleh dinding meqinya juga k0ntolku serasa disedot seRatnap kali k0ntolku di dlm meqinya walaupun ukuran k0ntolku standar tdk seukuran orang bule tp sensasi lubang meqi Ratna seakan akan menyempit kami berdua saling mengerang kenikmatan terlebih lebih aku karena nikmatnya yang Ratnada tara.
Peluh keringat terus mengucur dan Ratna masih tahan dgn gempuran k0ntolku kepala Ratna semakin bergerak ke kiri dan ke kanan sambil terus tdk henti hentinya mengerang dgn mata tetap tertutup merasakan kenikmatan gesekan k0ntolku.Aku ingin berganti posisi di bawah untuk menambah sensasi tp Ratna meRatnaknya karena takut dia tdk mendapatkan orgasme yang sebentar lagi akan datang dgn sedikit kecewa aku menuruti kemauannya walaupun aku merasa dgn posisinya di atas kenikmatan yang luar biasa akan kami peroleh aku semakin mempercepat gerakanku dgn maju mundur.
Semakin cepat gerakkanku semakin aku merasakan ledakan akan keluar dari dlm tubuhku Aku tdk tahan lagi dgn sensasi yang diberikan oleh lubang meqinya Ratna yang dasyat itu maka aku merasakan orgasmeku akan datang.
“Ratna nikmat banget ohh aku sampe nggak tahan nih ohh nikmaatttt..” kataku
“eemmmhhh Mas nikmaattt sekali terus Mas terus oocchhh hmmmzzzm” aku semakin tdk tahan dgn erangannya yang membuatku semakin tambah bernafsu.
“eeemmmhhh Ratna aku mau keluar nih bareng ya Ratna..” kataku.
“Aaaahhhhhh aku juga nikmaattt terus yang kenceng Mas oh oh oh Mas aku keluaarr hhmmpphhh ..” katanya.
“Aku juga Ratna oohh aku keluarrrrrr Ratnaaaaaa..” kataku lagi.
Lalu aku muncratkan spermaku didalam meqinya sambil aku peluk dia dan kukulum bibirnya yang mungil dan kami saling berpagutan berciuman merasakan kenikmatan yang sedang berlangsung semakin kencang spermaku keluar semakin kencang aku mencium dan menyedot bibirnya yang tentu saja membuatnya semakin menyedot pula dan mencengkeram serta memelukku erat karena tdk tahan dgn nikmatnya orgasme kami berdua sama sama lemas dan masih merasakan sisa kenikmatan yang terakhir.
Sambil masih terus berciuman dan rudalku masih menancap di lubang meqinya denyutan dari Dinding Kewanitaan Ratna masih bisa aku rasakan di batang k0ntolku yang begitu nikmatnya.
Aku senang Mas bisa ngesex sama Mas aku nggak nyesel kok katanya sewaktu kami masih berpelukan.
“Aku juga seneng Ratna nikmat banget abis meqi kamu legit sih heee..heee”. candaku.
“Mas bisa aja ah” sambil mencubit pinggangku Ratna menunduk malu dan senang dengar pujianku.
Lalu kemudian kami membersihkan diri bersama sama dan setelah itu berciuman lagi sambil berpelukan lama kami berpelukan sampai pada akhirnya aku pamitan karena takut suaminya pulang atau tetangga yang lain akan curiga. Lalu dgn pandangan mata yang sendu Ratna melepas aku pergi aku tahu bahwa sebetulnya dia masih menginginkan k0ntolku untuk dimasukkan kedalam lubang meqinya lagi tp karena sesuatu hal dia mengerti tdk mungkin melakukannya lagi.
Ini adalah pengalaman yang tdk bisa aku lupakan karena sampai saat ini belum pernah aku merasakan meqi yang senikmat punya Ratna sebenarnya aku ingin sekali mencicipi Meqinya Ratna tp setelah kejadian itu kami tdk pernah bertemu lagi karena rumahku dan rumahnya berjauhan selain itu aku dengar bahwa mereka juga telah pindah rumah ke orangtuanya.Dan berita yang terakhir aku dengar bahwa suami Ratna yaitu Gery menikah lagi jadi Ratna di madu dan Ratna semakin kesepian lagi alias jablay.
Itulah kisah yang bisa aku paparkan kali ini memang aku pribadi sangatlah bersalah dlm hal ini terutama dgn suaminya Ratna namun kalian sendiri tahu bahwa yang namanya nafsu sulit untuk kita bendung sekian sajian kali ini lewat judul Cerita Ratna Tetanggaku Dan Selingkuhanku.

Tuesday, May 23, 2017

Cerita Sex Mantan Guruku Yg Sekaligus Memenuhi Hasrat Birahinya

Namaku Indra, dan ini adalah ceritaku saat masih berumur 18 tahun. Saat berangkat ke Yogya untuk kuliah aku bertemu dengan Bu Denok dan Pak Jerry suaminya. Bu Denok adalah mantan guru ku saat SMP dulu.
Setelah bercerita panjang lebar mereka menawarkan padaku untuk tinggal di tempat mereka selama aku kuliah. Setelah mendapat ijin orang tuaku, akupun menerima tawaran baik mereka karena aku memang tidak punya kenalan di Yogya.
Setelah sebulan tinggal bersama aku tahu kalau Pak Jerry yang bekerja diluar pulau sering sekali berangkat, sementara kedua anaknya lebih memilih tinggal bersama neneknya dikalimantan untuk menyelesaikan pendidikan dasar mereka. Aku sering melihat Bu Denok melamun sepulang dia dari mengajar disekolah. Bu Denok juga sering cerita panjang lebar padaku tentang kesepiannya dirumah selama ini.
Dan aku selalu menjadi pendengar yang baik. Dibalik sikap baik yang kuperlihatkan, terpendam hasrat yang ada sejak SMP dan tumbuh lagi sejak pertemuan kembali dengan Bu Denok sekarang. Waktu SMP dulu aku paling bersemangat jika pelajaran Bu Denok, selain cara mengajarnya yang enak aku bisa mengintip BH yang dia gunakan.
Antara kancing didada dan kerah lehernya terdapat celah yang sering terbuka, sehingga jika diperhatikan secara teliti, orang pasti bisa melihat pakaian dalam yang ia gunakan. Dan selama penagamatanku Bu Denok selalu memakai BH warna Hitam. Itu selalu menjadi santapanku setiap mata pelajarannya. Bahkan aku selalu memperhatikan gerak-geriknya selama disekolah.
Waktu itu usianya 31 tahun, dengan wajahnya yang putih dan bentuk tubuhnya yang menawan membuatku selalu menjadikannya sebagai objek hayalan jika onani. Sekarang diusianya yang ke 36 tdak terlihat kalau Bu Denok telah memiliki 2 orang anak yang sudah SMP.
Malah menurutku ia terlihat lebih menawan, terutama pada bagian pinggul dan dada ukuran 36 B yang lekukannya semakin terbentuk. Itu semua karena program BL yang diikutinya tiap senin dan kamis sore. Awalnya aku cuma mengkhayalkan tubuh Bu Denok jika sedang bermasturbasi.
Kemudian aku melakukannya sambil memegang CD dan BH hitam milik Bu Denok, sampai akhirnya aku berani menguping jika Pak Jerry yang pulang dan sedang bercinta denagn Bu Denok. Sambil mendengar desahan dan erangan erotis dari dalam kamar, tanganku asik mngocok batang kontolku yang lumayan besar. Dan bila sudah keluar kubersihkan dengan CD atau BH Bu Denok yang akan dicuci besok.
Akhirnya muncul niatku untuk mencicipi lubang vagina Bu Denok yang pasti sangat keset dan terawat. Aku melakukannya setelah 4 bulan tinggal disana, saat itu hari kamis dan suaminya sudah berangkat seminggu. Aku menunggu didalam kamar sambil membayangkan “malam pertama” yang akan kulalui bersama Bu Denok. Saat dia pulang dari BL aku membukakan pintu rumah.
“Sore Ndra.. baru pulang?” Sapanya ramah dan tersenyum padaku. “Iya Bu.. baru aja” Balasku sambil mengangguk. Kemudian dia pergi kedapur membuat segelas susu lalu diletakkan datas meja makan. Kemudian ia masuk kamar untuk mandi. Saat dia mandi, kumasukkan serbuk tidur yang kubeli di apotik kedalam susu yang akan diminumnya.
Sekitar 45 menit kemudian Bu Denok keluar dari kamar, ia menggunakan daster motif bunga warna biru dengan panjang selutut tanpa lengan dengan belahan dada yang agak rendah, sehingga jika dia agak membungkuk belahan payudaranya yang indah akan tampak jelas terlihat olehku. Setelah mengambil susu di atas meja dia duduk menemaniku menonton TV di ruang tengah.
“Ada berita apa Ndra?” Tanyanya sambil meminum susu. “Biasa Bu.. politik gak ada habis-habisnya” Sahutku sambil mencuri pandang keketiaknya. “Bapa ada nelepon gak?”Tanyanya lagi sambil menghabiskan susu di gelas. “Belum Bu, mungkin masih ngelonin istri baru” Candaku. “Nakal ya..” Tegurnya sambil mencubit pinggangku.
Aku tidak menghindar karena dengan itu aku bisa melihat belahan dadanya yang seperti ingin melompat dari dalam dasternya. Sekitar 5 menit kemudian Bu Denok mulai menguap dan kepalanya mulai jatuh karena sangat mengantuk. “Ndra ibu tidur duluan.. Gak tau kok ngantuk banget hari ini” Pamitnya.
“Mungkin tadi terlalu diforsir tenaganya Bu” Sahutku dengan tersenyum. Kemudian Bu Denok masuk kamar dan menutupnya. Setelah 10 menit menunggu aku mulai beraksi, kuketuk pintunya pelan tiga kali lalu kupanggil namanya, tak ada jawaban. Kuulangi sekali lagi tetap tak ada jawaban, kuputar pegangan pintu dan kubuka dengan sangat perlahan dan kututup keras-keras.
Bu Denok tidak bereaksi di atas kasurnya. Kulihat jam dinding, 18:13 masih banyak waktu pikirku. Aku naik keatas kasur lalu ku perhatikan wajahnya, cantik sekali. Kucium bibirnya dengan lembut, lalu kujilati wajahnya sampai basah kemudian ciumanku turun kelehernya. Kusapu sekeliling lehernya dengan jilatan dan sedotan hingga memerah.
Setelah puas kuturunkan kepalaku kedadanya, walau masih berpakaian lengkap tapi bisa kurasakan kekenyalan sepasang payudara yang indah itu. Kedua tanganku secara perlahan tapi pasti meraih kedua bukit kembar itu lalu mengusapnya dengan lembut sementara kepalaku turun keselangkangnnya.
Dibalik kain daster itu tercium aroma kewanitaan yang sangat merangsang. Kuhirup puas-puas wangi yang memabukkan itu, sehingga mengakibatkan remasan-remasan yang kulakukan kepayudara Bu Denok menjadi kasar dan tak terkendali. Tarikan napasku semakin berat seiring dengan hasrat yang semakin menggebu.
Kemudian aku membuka semua pakaian yang mnelekat ditubuhku, dan menutup mataku dengan kain. Setelah itu kubuka daster yang dikenakan oleh Bu Denok kemudian kuatur posisi tubuhnya, Kedua tangan di atas kepala dan kaki yang membuka lebar. Lalu kubvka kain penutup mataku, pemandangan yang erotis dan menantang langsung terlihat dihadapanku.
Tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan tak berdaya kini hanya ditutupi oleh BH hitam pada payudaranya yang montok dan CD pink yang menggembung pada selangkangannya. Batang penisku semakin tegak mengacung siap perang. Kudekati tindih tubuh Bu Denok yang tergolek lemah dan pasrah itu.
Kucium bagian payudaranya yang tak tertutup BH, lalu tanganku menelusup kedalam BHnya dan meraih salah satu puting susunya kemudian memilin-milinnya. Dengan napas yang makin memburu kusingkap BHnya keatas sehingga kedua payudaranya langsung membusung kedepan seakan mengundangku untuk menikmatinya.
Kuciumi kedua payudaranya lalu kukulum, kusedot dan kugigit-gigit putingnya sampai memerah. Setelah itu kulirik selangkangannya, CD pink Bu Denok tak mampu menutupi beberapa helai rambut hitam yang menjulur keluar dari balik CD itu. Kutahan hasrat itu karena aku ingin menikmatinya saat Bu Denok mulai sadar nanti.
Kuraih kedua payudaranya kuremas-remas dengan kasar lalu kuletakkan batang penisku diantara sepasang susu yang indah itu. Kemudian aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, rasanya nikmat sekali walau pasti tak senikmat jika masuk kelubang vaginanya batinku. Pelan tapi pasti rasa nikmat mulai merasukiku, napasku mulai tersengal dan desahan mulai keluar dari mulutku tanpa diminta.
Butir-butir keringat makin mengalir deras, kukulum bibir Bu Denok sejenak lalu kulanjutkan kembali genjotanku tanpa kenal lelah. Kulihat tubuh Bu Denok mulai berguncang karena gerakanku yang makin hebat. Sekitar 10 menit berlalu dan aku sudah lelah menahan, kuputuskan untuk segera mengeluarkannya.
Gerakan pinggulku makin kupercepat dan kedua payudaranya makin kurapatkan. Rasa nikmat tak terlukiskan mulai menjalari batang penis dan menyebar keseluruh tubuhku. Cairan putih kental dari kepala penisku dan membanjiri permukaan tubuh indah Bu Denok yang tergolek diam.
Kukocok batang penisku sambil memuntahkan cairan spermaku kewajahnya, desahan-desahan nikmat keluar dari mulutku. Setelah selesai aku beristirahat sejenak sambil menatap tubuh Bu Denok yang hanya tertutup oleh CD saja. Kemudian kuambil lap dan air hangat yang memang sudah kupersiapkan, kubersihkan setiap bagian tubuhnya yang terkena siraman spermaku.
Setelah itu kucium-cium sebentar lalu kupasangkan lagi BHnya, kemudian kubongkar lemarinya kucari baju yang biasa digunakan Bu Denok kesekolah. Setelah dapat kupakaikan ketubuhnya. Samar-samar terlihat sekali kalau baju itu membentuk lekukan yang sangat indah aku berdecak kagum.
Kemudian aku menunggu dia bagun sambil memainkan payudaranya yang indah. Aku duduk disampingnya saat Bu Denok mulai membuka matanya. Cahaya lampu tampak menyilaukan matanya, kuperhatikan bagian dadanya yang terbuka. Batang penisku perlahan tapi pasti kembali mengeras melihat pemandangan yang erotis itu.
“Jam berapa ini Ndra?” Tanyanya sambil mengucek mata. “10 lewat 5 jawabku” Sementara mataku terus menatap kebelahan dadanya. “Huuaah.. masih malam toh.. lagi ngapain kamu” Tegurnya sambil merentangkan tangan, otomatis belahan payudaranya terlihat sampai BHnya. Dan itu membuatku menjadi lupa diri.
“Lagi liat ini Bu..” Tanganku langsung meremas salah satu payudaranya yang montok. “Jangan kurang ajar kamu ya” Bentaknya sambil menepis tanganku dan menutupi bagian dadanya yang terbuka. Sambil mendekatinya kuceritakan semua yang baru saja kulakukan tadi.
Wajahnya tampak memerah karena kaget dan tak percaya. Tiba-tiba aku langsung memeluknya, dan mencium bibirnya. Tak sampai disitu, kurebahkan tubuhnya keatas ranjang dan kuhimpit dengan tubuhku. Kulanjutkan aktifitasku, mencium dan melumat bibirnya.
“Jangan Ndra.. Ini dosa” Pinta Bu Denok lirih. Tapi aku terus menciuminya, tanganku mulai menyusup kebalik baju Bu Denok. Bu Denok menangkisnya, dengan sedikit gerakan aku berhasil menepisnya dan terus menyusup masuk sampai menyentuh payudara Bu Denok yang masih terbunkus BH.
Aku meremas lembut payudaranya yang montok itu. Bu Denok mendesah, aku terus meremas tidak lupa ciumanku terus melumat bibirnya. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Bu Denok kembali mnedesah, jemari tanganku mulai nerayap kepunggungnya, dan terus melepas tali BHnya. “Berhasil” Batinku. Bu Denok tersentak.
“Kita tidak boleh melakukan ini Ndra” sambil mendorongku kesamping. “Memang tidak boleh sih.. tapi..” Aku kembali merangkul Bu Denok, kali ini ciumanku lebih ganas dari pada yang pertama. Mulai dari bibir ke telinga terus menjalar ke lehernya. Jemari tanganku melanjutkan aksi lagi menarik keatas BH terus meremasnya, memuntir-muntir putingnya.
Bu Denok pasrah dan kelihatan mulai panas dengan permainan yang kuterapkan. Aku mengangkat tubuh Bu Denok dan membuka baju serta BHnya, akupun demikian. Bu Denok tampak takjub melihat batang penisku. Aku memulai kembali aksiku, kali ini ciumanku kuarahkan ke payudaranya.
Bu Denok menggeliat, apalagi tanganku menyentuh payudaranya yang satu lagi. Kami berdua telah bermandikan keringat, tangan Bu Denok menjambak rambutku. Permainanku jemariku mulai merangkak ke bawah dan berusaha menyelusup kebalik rok dan CDnya. Bu Denok tidak lagi menangkisnya.
Jemari tanganku menyentuh rambut kelaminnya, lalu jemariku menggesek-gesek sekitar liang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan membenamkan kepalaku kepayudaranya, untuk mendapatkan kenikmatan lebih. Setelah beberapa lama, ciumanku mulai merangkak kebawah sampai kebatas rambut vaginanya yang sedikit terbuka.
Aku kemudian memeloroti rok dan CDnya, akupun demikian. Aku kembali terkagum melihat tubuh telanjang Bu Denok. Payudaranya putih padat berisi dihiasi puting susu yang berwarna coklat kemerah-merahan. Sementara Vaginanya dikelilingi rambut kelamin yang lebat.
Aku kembali beraksi, kali ini daerah sasaranku liang vaginanya. Aku menciumi dan menjilati yang agak menonjol disekitar liang vaginanya mungkin itu yang dinamakan kloritas. Setelah beberapa lama ciumanku kembali keatas, merentangkan tangannya yang menutupi payudaranya.
Terus menjilati tubuhnya dan akhirnya mnedarat lagi di bibirnya. Batang penisku dengan mulut vagina Bu Denok saling beradu. Ini menyebabkan batang penisku ingin dimasukkan ketempatnya. Aku mengatur posisi dan melebarkan kaki bo Denok. Bu Denok tersadar dan berkata,
“Kita sudah terlalu jauh.. jangan teruskan” Aku tidak lagi memperdulikan kata-kata Bu Denok karena hawa nafsuku sudah menuju puncak. Aku kembali meraih Bu Denok dan menciumi bibirnya, kali ini lebih dahsyat lidahku bergoyang-goyang di mulutnya. Bu Denok tak bisa berbuat apa-apa dan kembali larut dalam kenikmatan. Batang penisku yang sudah gatal ingin memasuki liang vagina Bu Denok.
Aku mengambil posisi yang pas, batang penisku mulai memasuki pintu kewanitaannya. Seperti masih perawan, batang penisku sering melenceng memasuki liang vagina Bu Denok, aku terus berusaha dan akhirnya masuk juga batang vaginaku keliang vagina Bu Denok. Bu Denok mendesah panjang dan badannya berguncang.
“Gila keset amat.. kaya belum punya anak aja” batinku. Bu Denok telah sedikit tenang dan batang penisku telah masuk sedikit demi sedikit. Akhirnya semua batang kejantananku tenggelam di liang senggama Bu Denok. Aku menggoyangkan pinggulku sehingga batang kejantananku keluar masuk di liang senggama Bu Denok.
Makin lama makin cepat, Bu Denok mendesah sambil menyebut namaku. Kami berdua bermandikan keringat walaupun cuaca pada saat itu lumayan dingin. Erangan yang panjang disertai cairan hangat menerpa batang kejantananku yang masih berada didalamliang senggama Bu Denok.
Rupanya Bu Denok telah mencapai orgasme, aku pun tidak tinggal diam dengan mempercepat gerakan batang kejantananku keluar masuk diliang senggama Bu Denok. “Inilah saatnya” Batinku. Akhirnya puncak kenikmatanku datang, spermaku muncrat didalam liang senggama Bu Denok bersamaan dengan cairan hangat yang kembali menyirami batang penisku, ternyata Bu Denok kembali orgasme.
Malam itu berlanjut dengan beberapa kali orgasme Bu Denok, sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur. Pagi harinya, Bu Denok bangun lebih dulu dan langsung kekamar mandi. Sesaat kemudian aku terbangun dan mendengar guyuran air dikamar dan mengetoknya, Bu Denok pun membuka pintu kamar mandi.
Kembali aku terkesima melihat Bu Denok yang telanjang bulat dengan rambut yang basah. Gairahku kembali memuncak, aku masuk dan langsung merangkul tubuh Bu Denok. “Mandi dulu dong” Pinta Bu Denok manja. Akupun menuruti ajakannya kemudian mengguyuri tubuhku dengan air. Beberapa saat setelah itu aku menyabuni tubuhku dengan sabun cair.
Bu Denok turut membantu, malah dia menyabuni batang kejantananku yang kembali tegak. Rasa malu Bu Denok telah hilang, dia mengocok-ngocok batang kejantananku dengan lembut. Nikmat rasanya, dan pada saat hampir mencapai klimaksnya aku melepaskan tangan Bu Denok karena belum saatnya. Gantian aku yang menyabuni Bu Denok, mula-mula kedua tangannya lalu kedua kakinya.
Sampailah kedaerah yang vital, aku berdiri dibelakang Bu Denok terus merangkulnya dan menyabuni payudaranya dengan kedua telapak tanganku. Terdengar Bu Denok mendesah panjang. Usapanku kebawah melewati perutnya hingga sampai keliang senggamanya. Kembali aku mengusapnya dengan lembut.
Busa sabun hampir menutupi liang senggama Bu Denok, kali ini Bu Denok merintih nikmat. Setelah puas aku mengguyur kedua tubuh kami yang masih berangkulan. Aku membalikkan tubuhnya dan kami pun saling berhadapan. Bu Denok kemudian mencium bibirku, aku membalasnya dan kemudian terjadi french kiss yang dahsyat.
Tangan kami pun tidak tinggal diam, aku menyentuh payudara Bu Denok dan ia menyentuh batang kejantananku yang masih perkasa berdiri. Setelah beberapa lama, Bu Denok membimbing batang kejantananku memasuki liang senggamanya. Dengan melebarkan kakinya batang kejantananku kembali memasuki liang senggama Bu Denok.
Bu Denok melilitkan tangannya ke leherku kemudian aku menggendong Bu Denok dan menyandarkan ke dinding kamar mandi. Setelah itu aku kembali menggoyangkan pinggulku yang membuat kejantananku keluar masuk liang senggama Bu Denok.
Akhirnya spermaku keluar dan membasahi seluruh dinding liang senggama Bu Denok. Ternayata ia belum mencapai klimaks, untuk membantunya aku menjilati liang senggama Bu Denok. Bu Denok sedikit menjerit dengan apa yang kulakukan, Akhirnya Bu Denok mengeluarkan juga cairan dari liang senggamanya dan pas mengenai wajahku. Bu Denok terkulai nikmat, aku mengguyuri kembali tubuh kami berdua.
Aku dan Bu Denok telah selesai mandi, dan telah memakai pakaian masing-masing. “Lain kali.. aku minta lagi ya sayang” Bisikku sambil menelusupkan tangan ke balik baju kerjanya. “Atur aja” Desahnya manja. Kemudian Bu Denok berangkat kerja dan aku pergi kuliah.
Pokoknya selama bertugas Pak Jerry keluar pulau, aku menggantikan tugasnya memenuhi hasrat biologis Bu Denok di tempat tidur.